Tak lama kemudian saya jatuh hati sama si puspa pesona - Anggrek. Kini dia menjadi primadona di halaman saya sampai saat ini. Meskipun jumlahnya juga bisa dihitung dg jari.
Pilihan awal saya pilih Dendrobium - murah dan gampang perawatannya dan warnanya macem macem. Tahan banting. Awal-awal banyak yang mati - bukan mati sih tp merana tepatnya. Untung masih banyak yg bisa saya selamatkan. Meskipun tidak maksimal juga. Rumah saya menghadap ke arah Timur - bukan Timur persis. Dan lahan yg terkena sinar matahari langsung pun gak banyak . Akhirnya pertumbuhan si dendrobium ini tidak cantik. Batangnya mencari matahari semua - miring semua. Dari menanam Dendrobium saya sedikit banyak mengetahui langsung karakter si puspa pesona ini.
Cara merawatnya relatif mudah dibanding jenis anggrek yg lain. Meskipun batang pasti akan mencari matahari yang pasti dia sangat rajin banget berbunga - dicuekin pun dia akan berbunga. Diteras saya , minimal selalu saja ada satu atau 2 anggrek yang sedang berbunga, bergiliran. Bahkan pada saat musim panas tiba bisa bisa 4-5 anggrek berbunga berbarengan.
Bahkan tetangga saya banyak yang berkomentar, mengapa dirumah tetangga saya yang lain anggreknya jarang berbunga - daun melulu yang tumbuh - rasanya seperti menanam pohon pandan. Padahal rahasianya hanyalah di cukup matahari, cukup air, cukup angin. Dijamin si Dendro akan berbunga terus terusan. Insyaallah.
Setelah berhasil membungakan dendrobium, saya sempet jatuh cinta sama onchidium. Bentuk bunganya keren dan warnanya pun keren abis. Sayang saya kecewa berat sama si Onci ini. Kalau kita lupa memupuk rutin, ngambek gak mau berbunga sama sekali. Hidup sih hidup. Ah menyebalkan. Saya sebal sama si Onchi.
Kemudian saya beralih ke Phalaenopsis aka anggrek bulan. Meskipun saya jatuh hati dengan bunganya yg cenderung indah, lebar dan banyak, saya selalu takut miara Phalaenopsis. Dia sangat tidak tahan banting - serba salah. Terlalu kering -mati, Terlalu basah - busuk, Terlalu minim cahaya matahari - daun tidak maksimal, Terlalu kepanasan langsung - daun kuning en terbakar. Hadoh repot deh.
Tapi saya tertantang - hunting ke nursery -ke pameran bunga dsb. Investasi saya sudah banyak. Sayang mostly pada mati, krn saya jarang bisa tiap hari menyiram dan hanya mengandalkan asisten yang melakukan , sementara asisten tidak mengerti apa media tanam sudah terlalu basah atau terlalu kering. Untung masih ada beberapa yg saya selamatkan. Solusi saya - saya mengganti media tanam. And it work. Sekarang tunas tunas yg sudah banyak kehilangan daunnya setahun terakhir ini sudah mulai rimbun daunnya dan yang paling menggembirakan - mereka berbunga. Yah mereka berbunga - rajin berbunga malahan. Bahagianya.


Setahun terakhir ini saya memaksa si pohon mangga saya yg masih remaja untuk ditumpangi para anggrek. Disitu ada Dendrobium, Onchidium, Phalaenopsis dan terakhir ada dua koleksi Vanda. Si Dendro dan si Phalae rajin sekali berbunga, sedangkan si Onchi baru sekali berbunga dan Vanda - si Manja Tea...saya belum tau maunya si Vanda itu apa.hahahaa. Jadi si Mangga itu kami julukin Mangga berbuah Anggrek. Secara si Mangga baru pernah berbuah sekali dan mogok berbuah lagi.
Itulah cerita tentang halaman kecil saya dan puspa pesona milik saya..., seperti nyanyian berikut .
Lihat kebunku, penuh dengan bunga
Ada yg putih dan ada yang merah
Setiap hari , kusiram semua
Anggrek, mawar, melati semuanya indah.........