Thursday, October 23, 2008

Setitik Cahaya Terang

Saya mengalami suatu kegundahan yang luar biasa selama ini. Ada suatu masalah besar, besar sekali - itu menurut kapasitas seorang Luky Ekowati. Kegundahan itu mulai mengusik saya, atau tepatnya mulai saya sadari sejak saya belajar hidup mandiri untuk melanjutkan sekolah dikota hujan. Semakin lama semakin mengusik, cenderung mengganggu dan akhirnya malah menjadi borok di hati saya.
Saya mengalami pertentangan batin yang sangat-sangat hebat. Kontradiksi. Terombang-ambing. Saya tau saya tidak boleh marah , harus menerima semua ketidakadilan ini - saya mendari hal ini sebetulnya hanya akan menyeret ke arah dosa yang lebih besar. Tetapi saya tidak bisa mengendalikan amarah saya ini. Saya tidak bisa menerima ini , tidak boleh seorang manusia pun yang boleh bersikap demikian terhadap manusia lain. Ini jelas tidak benar,jelas tidak adil dan yang saya inginkan hanyalah kebenaran, saya hanya diperlakukan adil. Itu saja. Titik. Sayang sekali manusia lain itu tidak tahu apa yang selalu menjadi prahara di hati saya.
Waktu terus berjalan, saya semakin dewasa, dan bahkan seharusnya sudah matang. Matang dipohon. Tetapi lihat....saya masih berada dalam lingkaran tak berujung ini, rasanya seperti berada di samudera luas yang entah kapan saya bisa berlabuh. Berbagai perasaan marah , bosan, sedih, sudah terlalu lelah saya rasakan - inipun tidak mengusir pergi penyakit hati saya. Saya sudah pergi ketimur, ke barat, ke utara, ke selatan, ke timur laut, ke barat daya dan ke tenggara. Seluruh penjuru mata angin sudah saya jajaki, tetap saja jejak kotor ini tidak pula terhapus.
Kadang akal sehat saya mampu meredam, sehingga suasana hati saya bagaikan laut yang tenang dan berlangit biru. Tapi sering pula hati saya mengalami badai - sungguh ; badai yang bisa menjungkirbalikkan apapapun yang ada di samudera itu.
Berpuluh tahun saya mencoba berlabuh, tidak banyak pelabuhan yang bisa saya singgahi - melabuhkan hati saya ini . Tapi saya pun tidak bisa begitu saja singgah disetiap pelabuhan. Ini rahasia. Rahasia besar hati saya. Seandainya manusia itu tahu apa yang saya rasakan ini terjadi - sesuatu yang buruk dan runyam pasti akan terjadi dan akan menjadi penyesalan seumur hidup bagi saya. Pelabuhan ini pun tidak sepenuhnya melepas dahaga di hati saya dan membuat hati saya damai. Berbagai cara saya pun sudah saya coba tempuh, mencari jalan keluar dari samudra ini. Hasilnya - Nihil.
Putus asa, iya saya merasa putus asa, sangat. Tidak tahan dengan hati saya laksana roll coaster -tidak menentu. Mungkin sebetulnya hati saya ini sudah bernanah dan busuk...belasan tahun bahkan mungkin lebih, malah bisa jadi sama dengan umur saya, penyakit hati ini selalu berkecamuk dikepala saya..... saya berusaha melupakan sama sekali ?? ingin rasanya mengalami amnesia - pernah tetapi hanya sesaat.
Pertentangan dihati saya terus terjadi. Keinginan untuk mengungkap semuanya dan pencarian keadilan sudah ada diujung bibir saya sebelum akhirnya akal waras saya membungkam kembali bibir saya dan mematahkan langkah saya. Saya menyadari hal ini hanya akan menyisakan carut di hatinya yang tidak akan pernah hilang sampai kapanpun. Begitu berulang ulang selama beratus ratus kali.
Tiba-tiba ada setitik. Cuma Setitik. Hanya setitik cahaya terang muncul dari timur sana...yah ternyata dari arah timur sana. Setelah belasan tahun Pencarian saya, kegundahan saya, kemarahan saya, mendapatkan jawabannya disaat saya sudah pasrah bertarung dengan hati saya ini, dengan cara yang sangat tidak saya duga. Muncul begitu saja, mengalir begitu saja...lembut sekali memenuhi rongga kalbu saya.
Setelah belasan tahun? Sungguh menyedihkan, mata batin saya sudah tumpul, sedikit demi sedikit saya asah mata batin ini supaya bisa memaknai sabda-Mu ya Allah. Supaya mampu menembus hidayahmu yang bertebaran diseluruh jagad ini.
Saya sadari sungguh indah pencarian ini. Sungguh indah cara Engkau membukakan mata hatiku. Sungguh sederhana jawaban untuk melembutkan yang garang ini, hanya satu kalimat indah yang keluar dari mulut seorang hafizh " Cinta ini hanyalah milik-Mu ya Allah, Cinta ini hanya milik-Mu bukan milik manusia. Engkaulah pemilik Cinta itu dan hanya Engkau pulalah yang memberikan Cinta-mu ini kepada manusia". Kalau memang ini jawabannya saya ikhlas - ikhlas ya Allah.
Diujung sana tampak pelabuhan terakhir hati saya mengedipkan matanya dan memandang saya dengan penuh cinta, kasih sayang dan kesederhanaannya. Pelabuhan itu siap menenggelamkan saya dalam pelukan kedamaian.
Bogor, 18 Oktober 2008.
Ditulis based on my true story

Thursday, October 9, 2008

350 Rupiah

Seandainya suatu hari anda sedang berbelanja di salah satu hypermarket besar, nominalnya akan menyebabkan anda seharusnya menerima kembalian sebesar 350 rupiah. Tetapi karena suatu dan lain hal pihak kasir memberi tahu, supaya kita membayar uang pas saja atau mengiklaskan kembalian sebesar 350 rupiah untuk anak yatim di suatu tempat yg kita gak tau dan gak jelas dimana.
Apa perasaan anda? ikhlas gak? perlu gak kita nyinyir tanya-tanya lebih detail lagi dimana letak yayasannya bla bla bla... hanya karena uang 350 rupiah saja, sementara antrian dibelakang anda sudah menunggu lama dan secara materi anda sangat-sangatlah cukup diberi nikmat duniawi oleh Allah SWT.
Semoga kita termasuk orang orang yang beruntung ya...............

Wednesday, September 10, 2008

Memerawani Oven

Hih....judulnya masyaallah ..nggilani rek. Kata pengantarnya - saya bukan orang yang hobi memasak sekaligus tidak bisa memasak dan paling parahnya belum pernah sekalipun membuat kue yang dipanggang dg oven. Soalnya ada juga orang yang tidak hobi masak tapi jagoan masak. Jadi saay belum tau "slagh" untuk membuat kue dg oven ini. Jadi buat saya membuat kue dan teman temannya lebih mendebarkan dibanding menghadapi ujian Calculus..hahhahaha.

Misi oven adalah sebagai berikut

Misi I
Membuat Muffin - sekaligus menjajal apakah oven ini berfungsi atau tidak
Hasilnya : Muffin Bantat, keras, rasanya sih enak wangi butter gt - udah ngikutin step by step pembuatan muffin yang benar dan direkomendasikan oleh ahlinya.

Misi II
Membuat Muffin lagi - Panas niy karena gagal membuat muffin idaman.

Googling resep muffin yang lain, yang caranya lebih gampang dan bahannya mudah didapat. Gotcha you. Dapet resep Chocolate Custard Muffin yang resepnya diposting di Kitchen Mbak Rani Susilo.

Sorenya langsung turun dapur lagi...deg-degan niy nunggu hasilnya.....Ternyata taraaaaa - hasilnya sesuai yang diharapkan, atasnya mletek - mletek. RAsanya? mau tau? wiiiiih lumer di lidah...ueeenak tenan, chocolatenya pas , gak terlalu pait , gak terlalu manis. Asli Enak banget- gak bohong. Kalau gak percaya cobain sendiri deh. Linknya ada diatas tadi.

Biarpun gak ada fotonya tp saya berani menerima tantangan bikin muffin ini lagi... Soalnya sampe saya posting tulisan ini , saya sudah membuat muffin ini untuk ke- 3 kalinya huwaaaaaaa, ya gimana enggak? sekali buat cuma dapat 12 Biji, sehari Alya langsung menghabiskan 4 potong muffin ini, saya 4 potong, papanya Alya 2 potong , asisten masing masing 1 bj. Abis Ludes. Langsung panas panas dicobain... Hmmm jadi pengen bikin lagi...hahahhaa
Sempet Ge er , wah bisa juga niy saya bikin kue. Setelah agak lama baru istighfar...ah ini sih yang hebat resepnya dan cara menjelaskan step by stepnya clear banget dan bahan-bahannya mudah didapat. Sampe orang sedodol saya bisa bikin muffin....
MISI III
Nah membuat muffin kan cuma pemanasan, tantangan yang sesungguhnya adalah membuat kue kering untuk dibawa Asisten pulang kampung. Target gak tanggung - tanggung - minimal 10 Toples kue kering packing @ 1/2 Kg.
Kerikil tajamnya cuma satu : Belum punya pengalaman sama sekali.
Solusinya saya cari resep yang ada gambarnya, supaya punya bayangan.
Kastangles
Resep yang dipakai - Buku Resep Membuat Kue Kering Lebaran
Hasilnya : Bisa matang (untung ya...), tampilan - gak jelek jelek amat - apalgi setelah dimasukkan toples dan diwrapping dg plastik, rasa - biasa saja dilidah saya, tp enak dilidah asisten saya.
PUTRI SALJU
Resep yang dipakai - Masih melihat Buku Resep Membuat Kue Kering Lebarang
Hasilnya : Lumayan, Lumayan rasanya , Lumayan tampilannya, menurut saya kurang ngeprul kalo dimakan
NASTAR
Udah mulai takabur - udah merasa gak kagok bikin kue kering ,kai ini pengen bikin Nastar yang spesial Resep yang dipakai - Resepnya Nyonya Astri Nugraha.
Step pertama - bikin selai nanas. Sukses berat, rasanya sesuai dg yang saya harapkan, ada wangi wanginya Kayu manis. Mulai kebingungan saat menghadapi hasil adonannya. Weleh kok pas dibentuk kok lengket semua ditangan. Sementar mbak Astri kasih catatan, jangan nambah tepung terus menerus, adonannya memang lembek. Masukkan kekulkas sebentar.
Akhirnya berhasil juga dibentuk meskipun sedikit sedikit mesti cuci tangan berkali kali.
Hasilnya : Bentuknya - waduh..td perasaan udah berbentuk bulat gilig, kok hasilnya setelah matang bagaian bawahnya jadi melebar?? duh apa yang salah ya???. Rasanya - pas dicobain - maknyos..wangi banget butternya.....hmmm empuk banget , lumer dilidah. Masih jadi Pe er Niy soalnya mau tanya si empunya resep , rasanya beliau pasti sedang sibuk dg bayinya. Selamat ya mbak Astri atas kelahiran puteranya.
Lidah Kucing
Karena banyak persediaan putih telur (10 bj) saya buat adonan Lidah Kucing. Bikinnya gampang banget.
Hasilnya : Kue tidak bisa dikeluarkan dari kertas kue (sebelumya saya tidak punya cetakan lidah kucing), kue lengket semua dikertas. Rasanya - enak sih -sampe Alya bilang "ih kue buatan mama enak banget deh...tp gak bisa dicopt dari kertasnya".
Karena putus asa, adonan tidak saya oven semuanya malam itu. Keesokan harinya saya saya beli loyang lidah kucing ini. Setelah dicoba dipanggang lagi menggunakan loyang lidah kucing. Hasilnya = sama saja. Lengkeeeeeeeeeeeet. Udah deh putus asa.
Any body help me????


Monday, September 8, 2008

Oven

Oven..iya oven yang buat manggang kue dsb. Hari sabtu minggu yang lalu akhirnya saya resmi membeli sebuah oven di pasar. Nothing special. Oven manual yang banyak dijual dipasar - pasar, kualitas rendah malahan, jadi harganya pun murah meriah. Berbekal uang 90 ribu rupiah saja saya sudah bisa membawa pulang oven tersebut.


Meskipun demikian, Oven ini cukup spesial buat saya. Why? Dengan umur diatas 30 ini , baru sekarang saya mempunyai oven. Kaget ya..gak usah heran, Sepanjang ingatan saya, belum pernah sekalipun saya melihat ibu saya membuat kue, cake, cookies , dan ibu saya tidak punya oven juga, wajar kalau saya tidak dekat dengan yang namanya oven. Menyentuhpun belum pernah apalagi menggunakannya.

Saya bukan termasuk orang yang hobby masak, tapi sisi kewanitaan saya belumlah padam padam amat, jadi kadangkala masih punya keinginan membuat kue meskipun amat jarang sekali. Bila keinginan saya timbul, dan kemudian tergerak mencari resep kue, saya akan menskip kue yang harus dioven. Jadi begitu melihat tampilan kue, saya langsung melihat cara membuat yang paling akhir. Begitu ada kata - dipanggang dioven sekian derajat, saya tidak akan meneruskan membaca resep tsb.


Begitu pula kalau temen sekantor membagikan kue hasil buatannya sendiri dan enak, kata-kata pertama yang ditanyakan, cara bikinnya bisa dikukus gak?? Kadang setelah dicoba hasilnya pun tidak semaksimal dibandingkan dengan kue yang dipanggang. Apalagi mengingat Alya termasuk pencinta kue juga sekaligus pengidap alergi dengan namanya bahan pengawet. Kadang kasihan saat Alya minta kue dan saya terlanjur tidak membeli kue ditempat yang biasanya. Jadi sesekali terpikir oleh saya untuk pentingnya punya oven.


Hari itu saya puas sekali karena berhasil meminang "sang Oven" untuk stay didapur mungil saya, setelah bolak balik maju mundur pengen beli oven - demi tuntunan bikin makanan atau kue yang "terpaksa" menggunakan satu satunya alat ini supaya enak dimakan dan memuaskan keinginan Alya untuk makan kue dan disisi yang lain saya keberatan si oven ini menuh-menuhin dapur saya yang kecil mungil - dimana tanpa ada tambahan oven pun , si dapur mungil ini sudah terasa akan meledak.
Selamat bertugas ya oven - misi pertama adalah membuat kue kering untuk bekal mudik si Mbak Nah sama si Nur. Lumayan kan targetnya masing masing orang membawa pulang 5 toples Kue kering daripada beli mahal. Hmm hemat berapa ya?? sudah BEP belum dengan harga Ovennya...he.he.he.he.
Happy Baking!!!!



Friday, August 29, 2008

Go..Go..Go.... Alya

Betul kata pepatah ya, otak anak-anak itu ibarat spon, gampang menyerap segala hal. Contohnya anak saya Alya. Alya ini anaknya unik....saya suka bereksperimen untuk memotivasi Alya. Rupanya Alya ini menyukai kompetensi.
Salah satu contoh keberhasilan saya memotivasi Alya adalah tentang proses Alya berhasil menaiki sepeda roda dua. Cukup dengan bisikan mantra "kamu pasti bisa, kamu harus yakin kalo kamu pasti bisa menaiki sepeda roda dua, kamu hebat, tunjukkan ke temen kamu kalau kamu hebat" dan yel yel"Go..go..go Alya" gak sampe setengah jam Alya meluncur dengan sepeda roda duanya. Tak berapa lama dari bisa bersepeda , gak tanggung-tanggung Alya unjuk kebolehan losteng alias lepas tangan. Dan saya perhatikan akhir - akhir ini Alya senang menghijack sepeda temannya yang ukurannya jauh lebih besar untuk dikendarai.
Lain waktu sewaktu masih di akhir TKA Alya pernah bercerita kalau salah seorang temennya bernama Daru sudah hafal Ayat kursy, lancar pula. Saya tantang " emang kakak gak mau seperti Daru? mama yakin kamu bisa seperti daru sudah hafal ayat kursi, nanti temen-temen kakak pasti bilang kakak hebat, bu guru juga akan bilang hebat kalau alya sekarang bisa lancar Ayat Kursi". Mantranya kali ini lain, " kalau kamu berhasil hafal aya kursi dan makrodjnya benar, kamu boleh naik bungy trampoline lagi, gimana??" dan tidak lebih dari satu minggu Alya sudah hafal lancar-car Ayat Kursy.
Sekali lagi menjajal kkekuatan mantra yang punya nama lain "motivasi" ini, suatu saat saya makan mi bersama Alya. Dimeja lain saya mendapatkan ada anak lain seusia Alya dengan lihainya makan mie menggunakan sumpit. Hmmm gotcha Alya...." Kak...Liat deh meja sebrang sana, anak itu seumuran kamu dan dia bisa makan pake sumpit...seru ya kayaknya makan mie pake sumpit". Alya mengangguk tanda setuju. Beberapa minggu kemudian kami makan mie lagi ditempat yang sama, tiba tiba Alya ambil sumpit. Saya sempet bertanya," Wah kakak ingat anak kecil yang pake sumpit itu ya......oke kakak hebat mau coba pake sumpit...tp pelan-pelan aja ya...yang penting coba dulu makan pake sumpit". Dan saya terkejut bukan main mendapati Alya saat itu juga mampu menggunakan sumpitnya dengan lihai. Wah kapan berlatihnya ya si Alya???? Saya saja berlatih pake sumpit dari dulu, hasilnya sampai sekarang pun saya gak lihai pake sumpit......
Jadi mari kita kenali keunikan anak kita masing-masing.

Saturday, January 26, 2008

Hallo Namaku Asha



Hai...namaku Asha, lengkapnya Aisha Nisrina Nadia. Kata mamaku artinya bagus dan doa buat aku. Mama - papa berharap aku akan menjadi wanita utama yang berhati mulia dan secantik bunga mawar putih, beriman dan bertakwa kepada Allah Swt. Amien.

Umurku sekarang hampir 9 bulan, Aku lahir pada tanggal 5 Desember 2007, jam 4.15 WIB. Berat Lahirku 3.15 Kg dan panjang 48 cm di RSIA Hermina Bogor. Kata mamaku - aku lebih beruntung dibanding kakakku - kakak Alya, saat dilahirkan aku sempat mengalami proses IMD (Inisiasi Menyusu Dini) dan mendapatkan ASI Exlusive 6 bulan dan ASI tahap 2 - insyaallah sampai berumur 1 th. Dan kalau Allah masih mengijinkan, mamaku berniat memberiku ASI sampai umur 2 tahun.

Sekarang aku udah pinter merangkak kemana mana dan belajar berdiri, trus ocehanku semakin bikin mama, papa, kakak Alya dan mbak nah tertawa tawa geli. Aku juga bingung kenapa meraka ketawa ya?? Trus kalo mama papa berangkat aku suka ikut mobil papa sampe di pos satpam digerbang perumahan, trus aku pulang digendong mbak nah jalan kaki. Oh iya aku juga udah pinter rebutan apa aja sama kakak. Kemaren aku cakar kakak,karena kakak merebut bantal aku trus bantalnya kakak gak boleh aku pinjem. Jadi aku marah , aku cakar deh kakak. Eh trus kakaknya nangis - duh aku takut kalau dimarahin mama ntar.

Oiya, sekarang aku udah pinter maem loh. Gak kayak dulu, dulu aku suka gak mau nelen makananku , tapi sekarang aku udah bisa. Lumayan enak juga sih, tapi makananku hambar - soalnya mamaku melarang aku maem yang bergaram. Kasian ginjal aku katanya.

Udah dulu ya, aku mau bobo dulu Ah.


Thursday, April 12, 2007

Minggu ke -9/Usia Janin = 7 minggu

Kondisi Ibu

  • Semakin mual sepanjang hari
  • Daya penciuman semakin tajam (udah melebihi....**** pelacak..he..hehhe..)
  • Minta dipijit kaki dan punggung secara lebih intensif
  • Mual melihat dan mencium aroma Ayam goreng, apalagi memakannya
  • Gak bisa mandi pake air dingin
  • Minum Vit Biosanbe
  • Buah : Apel Fuji
  • Susu : lagi mual minum susu, jadi sementara diganti yogurt Apel
  • Masih suka banget soto Ayam, rawon, sop daging + ada yang baru, telur ceplok , telur asin

Kondisi Janin